Parenting
Home » Blog » Dear Mama, Yuk Redam Amarah Saat Parenting: Luka Tak Terlihat di Balik Bentakan pada si Kecil

Dear Mama, Yuk Redam Amarah Saat Parenting: Luka Tak Terlihat di Balik Bentakan pada si Kecil

Pentingnya Redam Amarah Saat Parenting, 01/12/2025, Foto; Istimewa

Halo, Bunda! Pernah nggak, sih, merasa di ujung tanduk? Pagi-pagi sudah riweuh siapkan sarapan, eh si Kakak menumpahkan susu ke lantai yang baru saja dipel. Siang hari, saat baru mau rebahan sejenak, si Adik malah mencoret-coret tembok dengan krayon kesayangannya. Sore hari, drama GTM (Gerakan Tutup Mulut) dimulai. Rasanya, kepala mau meledak dan satu-satunya jalan keluar adalah… BERTERIAK! Sebenarnya itu cara paling buruk dalam parenting, yuk temukan cara redam amarah saat parenting.

Walau plong serasa beban di dada terasa sedikit lega sesaat. Tapi setelah itu, apa yang Bunda rasakan? Biasanya, yang datang adalah rasa bersalah yang menusuk. Apalagi saat melihat mata si Kecil yang bulat dan penuh ketakutan, atau bibirnya yang mulai bergetar menahan tangis.

Mama, tenang. Tarik napas dulu. Kamu tidak sendirian. Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan 24/7 tanpa hari libur. Lelah, stres, dan merasa overwhelmed itu sangat manusiawi. Sesekali “terpeleset” membentak mungkin pernah dialami hampir semua ibu di dunia.

Namun, yang perlu kita waspadai bersama adalah jika membentak atau berteriak menjadi “senjata” andalan setiap kali menghadapi tingkah laku anak. Jika ini menjadi kebiasaan, tanpa sadar kita sedang menorehkan luka tak kasat mata pada kesehatan mental si Kecil. Luka ini mungkin tidak berdarah, tapi dampaknya bisa ia bawa hingga dewasa.

Yuk, kita sama-sama selami lebih dalam, apa saja sih dampak buruk dari kebiasaan membentak anak bagi kesehatan mentalnya?

Mengenal Pola Asuh Lazy Parenting yang Melatih Kemandirian

1. Meruntuhkan Tembok Kepercayaan Diri si Kecil

Bayangkan seorang anak seperti tunas tanaman yang baru tumbuh. Ia membutuhkan sinar matahari (kasih sayang), air (pujian), dan tanah yang subur (rasa aman) untuk bisa tumbuh tinggi dan kokoh. Nah, bentakan itu ibarat badai atau injakan sepatu yang datang tiba-tiba.

Saat Mama sering membentak, pesan yang tertanam di benak si Kecil bukanlah “Aku salah menumpahkan susu,” melainkan “Aku ini anak yang salah.”

Ia akan mulai berpikir:

  • “Aku selalu bikin Mama marah.”
  • “Aku ini bodoh dan ceroboh.”
  • “Aku nggak bisa melakukan apa-apa dengan benar.”

Pikiran-pikiran negatif ini, jika dipupuk terus-menerus lewat bentakan, akan meruntuhkan fondasi kepercayaan dirinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu, takut mencoba hal baru karena cemas akan melakukan kesalahan dan diteriaki lagi. Di sekolah, ia mungkin jadi pasif. Saat dewasa, ia bisa kesulitan mengambil keputusan atau selalu merasa tidak cukup baik (insecure).

2. Menanam Benih Kecemasan dan Ketakutan

Bagi seorang anak, orang tua adalah safe haven atau pelabuhan teraman di dunia. Mama dan Papa adalah sumber rasa aman. Sekarang, bayangkan jika pelabuhan aman itu sering dilanda badai teriakan. Anak akan merasa dunianya tidak lagi aman.

Menilik Dampak Screen Time Bagi Tumbuh Kembang Anak

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, berubah menjadi “medan perang” yang penuh ketidakpastian. Ia akan selalu waspada, menebak-nebak kapan “ledakan” Mama akan terjadi lagi. Kondisi waspada terus-menerus ini memicu stres kronis.

Akibatnya, anak bisa mengalami:

  • Kecemasan (Anxiety): Selalu khawatir, mudah kaget, dan sulit tidur.
  • Gejala Fisik: Sakit perut atau pusing tanpa sebab medis yang jelas. Ini adalah cara tubuhnya merespons stres.
  • Perilaku Mundur: Kembali mengompol padahal sudah toilet training atau jadi sangat manja dan penakut.

Ia tidak lagi melihat Bunda sebagai tempat berlindung, melainkan sebagai sumber ketakutan. Hubungan yang seharusnya hangat pun menjadi renggang karena terhalang dinding rasa takut.

3. Memberi Contoh Bahwa Agresi Adalah Solusi

Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar tentang cara berinteraksi dengan dunia, cara menyelesaikan masalah, dan cara mengekspresikan emosi dengan melihat orang tuanya. Monkey see, monkey do.

Jika kita sering menyelesaikan masalah (misalnya, mainan yang berantakan) dengan berteriak, maka kita secara tidak langsung mengajarkan kepada mereka: “Kalau kamu mau sesuatu atau tidak suka sesuatu, berteriaklah. Itu cara yang efektif.”

Manfaat atau Risiko? Mengupas Dampak Medis Menyusui Anak Lebih Dari 2 Tahun

Jangan kaget jika nantinya si Kecil jadi mudah berteriak pada adiknya saat mainannya direbut. Atau ia membentak temannya di sekolah. Ia hanya meniru apa yang ia lihat sebagai cara komunikasi yang “normal” di rumah. Pola ini bisa terus berlanjut hingga ia dewasa, membuatnya kesulitan membangun hubungan yang sehat karena ia terbiasa menggunakan agresi verbal untuk mengatasi konflik.

4. Merusak Jalur Komunikasi Orang Tua dan Anak

Bentakan mungkin efektif untuk menghentikan perilaku anak saat itu juga. Anak berhenti berlari karena kaget dan takut. Tapi, efek ini hanya sementara. Bentakan tidak pernah mengajarkan mengapa perilakunya salah.

Yang lebih parah, bentakan menutup pintu komunikasi. Anak yang sering dibentak akan enggan untuk bercerita atau jujur kepada orang tuanya. Ia takut jika ceritanya salah atau mengecewakan, ia akan menerima teriakan lagi sebagai responsnya.

“Aku nggak mau cerita ke Bunda kalau nilaiku jelek, nanti Mama marah.”
“Aku nggak berani bilang kalau aku yang mecahin vas, nanti Mama teriak.”

Akhirnya, ia memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri atau berbohong. Jarak emosional antara Bunda dan si Kecil pun semakin lebar. Padahal, fondasi hubungan yang kuat adalah kepercayaan dan komunikasi yang terbuka.

5. Mengganggu Perkembangan Otaknya

Ini mungkin terdengar menyeramkan, tapi ini didukung oleh sains, Ma. Studi neurosains menunjukkan bahwa stres berat dan terus-menerus di masa kanak-kanak (seperti sering mendengar teriakan) dapat memengaruhi struktur dan perkembangan otak anak.

Saat anak merasa terancam (karena bentakan), tubuhnya melepaskan hormon stres bernama kortisol. Dalam kadar normal, kortisol itu baik. Tapi jika dilepaskan terus-menerus, ia bisa menjadi “racun” bagi otak yang sedang berkembang, terutama pada area yang mengatur emosi, memori, dan fungsi pengambilan keputusan. Ini bukan berarti otak anak rusak, tapi koneksi-koneksi penting di dalamnya bisa terganggu.

“Lalu, Aku Harus Bagaimana, Bun? Aku Juga Lelah…”

Membaca semua dampak di atas mungkin membuat Bunda makin merasa bersalah. Stop! Buang jauh-jauh perasaan itu. Tujuan artikel ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyadarkan dan mencari solusi bersama. Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, tapi sangat mungkin. Ini adalah perjalanan, bukan perlombaan.

Berikut beberapa langkah kecil yang bisa Bunda coba:

Kenali Pemicumu

Coba perhatikan, kapan biasanya Mama “meledak”? Apakah saat lelah? Lapar? Stres karena pekerjaan? Dengan mengenali pemicunya, kita bisa melakukan antisipasi. Mungkin sebelum menjemput anak, Mama perlu makan dulu atau mendengarkan musik favorit sejenak di mobil.

Ambil Jeda Emas 5 Detik

Saat emosi sudah di ubun-ubun, jangan langsung bereaksi. Berhenti. Ambil jeda. Tarik napas dalam-dalam sebanyak 3 kali. Hitung sampai 10. Jeda singkat ini memberi kesempatan pada otak rasional kita untuk mengambil alih dari otak emosional.

Turunkan Posisi, Rendahkan Suara:

Alih-alih berdiri menjulang dan berteriak dari seberang ruangan, coba dekati si Kecil. Berlutut atau jongkok agar sejajar dengan matanya. Tatap matanya dengan lembut, lalu bicaralah dengan suara yang pelan namun tegas. “Sayang, Mama tidak suka kalau kamu melempar mainan. Itu berbahaya.” Cara ini jauh lebih efektif dan tidak menakutkan.

Validasi Perasaannya, Tetapkan Batasannya

Seringkali anak bertingkah karena emosi yang tidak bisa ia ungkapkan. Coba validasi perasaannya. “Mama tahu kamu kesal karena harus berhenti main. Kesal itu boleh, tapi membanting pintu tidak boleh, ya.” Ini mengajarkan anak cara mengelola emosi dengan sehat.

Minta Maaf Jika Terlanjur

Kita semua manusia. Jika Mama terlanjur membentak, jangan ragu untuk meminta maaf. Peluk si Kecil dan katakan, “Maafin Mama, ya, Nak. Tadi Mama teriak karena kaget dan lelah. Seharusnya Mama bisa bicara lebih baik. Mama sayang kamu.” Ini tidak akan membuat wibawa Mama turun, justru akan mengajarkan anak tentang kerendahan hati dan cara memperbaiki kesalahan.

Menjadi ibu adalah seni mengelola ekspektasi dan emosi. Akan ada hari-hari baik dan hari-hari yang terasa berat. Kuncinya adalah terus belajar dan berproses. Setiap kali Bunda berhasil menahan teriakan dan memilih untuk berbicara dengan lembut, Bunda sedang membangun jembatan cinta yang kokoh dengan si Kecil. Bunda sedang memberinya hadiah terindah: rasa aman dan keyakinan bahwa ia dicintai tanpa syarat.

Semangat terus ya, Bunda hebat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *