Hai, Bunda! Sebagai orang tua pastinya anak merupakan kebanggaan keluarga. Rasa cinta yang besar terhadap anak seolah tidak pernah pudar. Namun sesekali si kecil kadang membuat jengkel orang tua. Akan tetapi kondisi apapun penting bagi orang tua untuk menahan diri tidak boleh mengucapkan kalimat larangan pada anak.
Luka yang terjadi di anak memang sekilas sembuh. Tapi luka batin akan selalu membekas.
Kalimat Larangan dan Tidak Boleh Diucapkan pada Anak
Sebenarnya tidak ada orang tua yang jahat pada anak. Hanya terkadang dalam hal tertentu bisa keliru.
Berikut ini 12 kalimat larangan yang tidak boleh diucapkan ke anak :
1. “Duh, kamu ini kebangetan…”
Anak-anak khususnya anak usia dini mempercayai begitu saja apa yg didengar tanpa banyak bertanya. Salah satunya adalah label negatif yang disematkan kepada mereka. Kalimat yang melabeli akan semakin menguatkan dan yakin bahwa anak mempunyai sifat “yang dituduhkan” kepadanya. Misalnya ketika anak berperilaku nakal pada teman maka ortu ada yang memarahinya dan langsung menyebut “nakal”.
Namun sebaiknya orang tua langsung memberitahu kebiasaan anak urang baik dan berkata “Budi sedih lo, waktu kamu bilang ke teman lain agar menjauhi Budi. Yuk main sama-sama dan minta maaf ke Budi”. Perlu diingat bahwa anak-anak akan menyimpan kata-kata tersebut hingga dewasa kelak.
Dan rata-rata orang dewasa pun akan mengingat saat kecil dulu ia sering disebut bodoh oleh orang tuanya ketimbang ketika ia dipuji.
2. “Dasar cengeng…”
Menangis adalah bentuk ekspresi perasaan mereka saat sedang marah, kesal, lelah dan kecewa. Jadi disaat mereka sedang kesal dengan sesuatu maka akan menangis. Jangan menyebut anak dengan sebutan cengeng juga tak bermanfaat.
Membandingkan anak dengan saudara atau teman-temannya menunjukkan bahwa orang tua menginginkan anak menjadi seseorang yang berbeda. Pahamilah setiap anak memiliki kemampuan dan kepribadian yang berbeda. Memaksa atau menekan anak untuk mengerjakan sesuatu yang tak ia sukai atau belum saatnya dia lakukan, bisa-bisa membuat anak bingung dan kehilangan kepercayaan dirinya. Kehilangan kepercayaan diri di depan orang tua, bisa membuat ia merasa tak disayang dan kecil hati hingga dewasa nanti.
4. “Jangan ganggu Bunda!”
Kalimat larangan ini mungkin diucapkan oleh ibu ketika ia sedang mengerjakan sesuatu. Dan anak terus mengganggunya. Mungkin kalimat itu diucapkan oleh orang tua sudah dianggap biasa. Namun ternyata jika anak sering mendengar kalimat ini, ia menganggap bahwa ibunya tidak mau dekat dengannya.
5. “Kamu bikin Bunda pusing!”
Apabila orang tua sering berkata pada anak “kamu bikin Bunda pusing” dan tanpa sadar anak merasa bersalah. Dan tahukah kamu, jika kalimat seperti ini dapat membuat hubungan anak dan orang tua menjadi buruk.
Bahkan kalimat ini seringkali membuat anak menjadi mudah cemas, tidak percaya diri, rendah diri dan menganggap dirinya bertanggung jawab atas perasaan org lain.
6. “Contoh tuh kakak kamu…”
Jika anak tidak mau belajar dan kakaknya tidak disuruh lagi mengerjakan PR, bukan berarti orang tua bisa membandingkan keduanya. Karena membanding-bandingkan keduanya tidak selalu membuat adiknya langsung meniru kakaknya.
Membandingkan anak menunjukan bahwa orang tua menginginkan anak menjadi seseorang yang berbeda. Anak memiliki kemampuan dan kepribadian yang berbeda. Dengan memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu yang ia belum siap hanya akan membuat tingkat kepercayaan dirinya menjadi hilang. Sehingga anak merasa tidak disayang dan kecil hati hingga dewasa nantinya.
7. “Kamu harusnya bisa lebih pintar…”
Sama halnya dengan membanding-bandingkan, kalimat ini dampaknya luar biasa kepada anak. Orang tua harus tahu bahwa belajar adalah merupakan proses trial dan error. Mungkin anak tidak tahu saat mengambil minuman di kulkas bisa dilakukan tanpa membuat berantakan. Oleh karena itu, orang tua wajib mendampingi setiap proses belajarnya.
8. “Kamu tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.”
Jangan mengucapkan kalimat seperti ini. Karena akan membuat anak merasa bodoh, malu dan rendah diri. Walaupun banyak orang berpikir rasa malu adalah cara yang baik untuk menghukum anak-anak, kalimat tersebut tidak pantas untuk diucapkan.
Bahkan hal itu akan sering mempunyai efek yang sebaliknya karena bisa menyebabkan anak menjadi menarik diri. Dalam jangka panjang, rasa malu itu akan membuat anak menjadi kurang mampu untuk mengambil keputusan yang tepat.
Rasa malu berbeda dengan rasa bersalah. Rasa bersalah tidak buruk karena mengandung perasaan menyesal serta tanggung jawab. seseorang harus merasa menyesal saat melakukan sesuatu yang salah.
Jadi jika ingin merasa bersalah saat melakukan kesalahan, maka jangan gunakan rasa malu untuk mencoba membuat anak merasa bersalah. Rasa malu juga mempunyai efek yang seolah mengatakan “kamu adalah orang yang tidak berharga”.
9. “Ibu sudah muak dengan kamu!”
Walaupun orang tua sudah sangat kesal dengan anak, kalimat tersebut tidak boleh diucapkan pada anak. Dalam jangka panjang, terus menerus mengatakan kalimat tersebut maka hal ini akan merusak hubungan ibu dan anak.
Bayangkan saat anak bergantung pada orang tuanya untuk bertahan hidup. Orang tua memberi perlindungan, makanan, pakaian dan sebagainya. Disaat yang mengasuh anak mengatakan bahwa ia muak dengan anak tentunya ini akan mengejutkan, menakutkan dans angat meujkai hati anak.
10. “Sini, biar ibu bantu.”
Jika dilihat sepintas memang tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Terlebih anak-anak memang belum bisa mandiri dan butuh bantuan orang tuanya.
Sebaiknya kalimat tersebut jangan diucapkan ketika anak sedang berusaha melakukan sesuatu dengan hati-hati. Karena hal tersebut menjadikan anak menjadi tidak bisa mandiri dan selalu bergantung pada orang lain.
Alih-alih membantu anak dari yg terkecil, akan lebih baik memberikan kesehatan untuk mencoba dan mengamati dari jauh selama itu tidak berbahaya.
11. “Kamu baik-baik saja.”
Ketika anak terluka dan terjatuh, maka akan muncul perasaan ingin meyakinkan bahwa tidak terluka parah. Mengatakan pada anak bahwa mereka baik-baik saja mungkin justru akan membuat anak merasa lebih buruk.
Tugas orang tua adalah membantu anak untuk memahami dan menghadapi emosi mereka bukan mengabaikannya. Orang tua bisa mencoba dengan memberikan pelukan pada anak dan mengakui bahwa apa yang dirasakan dengan cara menanyakan apakah ign diobati, mendapatkan pelukan dan sebagainya.
12. “Ayah/Ibu tidak mampu membelinya.”
Saat anak meminta mainan terbaru yang harganya mahal sebaiknya jangan katakan bahwa kita tidak memiliki uang. Karena kalimat tidak mempunya uang memberikan kesan bahwa orang tua tidak mampu mengendalikan keuangan.
Penulis Kids and Money, Jayne Pearl, menyarankan orang tua untuk katakan “Kita tidak akan membelinya karena kita sedang menyimpan uang untuk hal-hal yang lebih penting,” ketika anak meminta barang mahal.
Dan jika anak tetap bersikeras untuk membeli atau membahas mainan yang diinginkan, maka orang tua dapat memanfaatkan momen tersebut untuk memulai percakapan tentang bagaimana mengatur angga dan mengelola keuangan. (sta)
Comment