Hai bunda! Dalam dunia parenting modern makin banyak orang tua yang mencari cara pengasuhan yang nyaman dan penuh perhatian.
Salah satu yang paling populer saat ini adalah gentle parenting. Parenting ini menerapkan pola asuh yang menekankan hubungan emosional yang kuat, empati dan komunikasi positif antara orang tua dan anak.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hukuman saja, namun membangun kerjasama dengan anak agar anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat baik emosional dan sosial.
Pengertian Gentle Parenting
Gentle parenting merupakan pendekatan pengasuhan anak yang menekankan pada hubungan yang positif, empati, rasa hormat serta komunikasi yang efektif antara kedua orang tua dengan anak.
Fokus dari pola asuh ini ada pada pemahaman perasaan dan kebutuhan anak, selain itu juga menetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Tujuan utamanya yaitu untuk membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri dan bahagia.
Manfaat Menerapkan Gentle Parenting
Gentle parenting memiliki banyak manfaat bagi anak dan orang tua, antara lain :
1. Membuat anak lebih percaya diri
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Child Psychology (2019) menunjukan bahwa pola asuh yang lembut akan mengurangi risiko kecemasan sehingga anak menjadi jauh lebih berani dan percaya diri.
Orang tua yang menerapkan pola asuh ini akan mencoba memahami penyebab rasa cemas. Misalnya saat anak pertama kali masuk sekolah, orang tua akan memberikan motivasi agar anak menjadi percaya diri.
2. Anak belajar berempati
Anak akan meniru apa yang orang tua lakukan, termasuk didalamnya pola asuh yang diterapkan yang didalamnya ada empati. Anak dengan sikap yang sama akan melakukan hal yang sama pada orang tua bahkan ke orang lain.
Namun sebaliknya jika orang tua sering marah-marah dan menghukum tidak jelas saat anak melakukan kesalahan, anak pun akan bertindak yang sama karena anak berpikir bahwa hal tersebut wajar saja.
3. Hubungan anak dan orang tua menjadi lebih kuat
Adapun manfaat pola asuh yang lembut akan membangun hubungan yang positif antara orang dan anak. Saat orang tua menerapkan pola asuh ini maka anak akan merasa dicintai, waktu dan dukungan sepenuhnya untuk anak.
Anak menjadi lebih bisa memahami mengenai konsekuensi apa yang diperbuatnya. Dengan begitu anak akan mempunyai hubungan yang sehat, kuat dan positif.
4. Menanamkan motivasi anak
Bagi orang tua yang menerapkan pola asuh ini anak tidak hanya berfokus pada perilaku buruk anak saja. Namun orang tua kalian bekerja sama dengan anak untuk lebih mengarahkan perilaku yang baik. Orang tua akan memberikan motivasinya agar anak bertindak lebih baik. Ini akan bermanfaat ketika anak mengalami kesulitan dalam mempelajari hal baru di sekitarnya. Anak juga akan mencari cara untuk meningkatkan kemampuannya.
5. Latihan mengontrol emosi
Bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua. Ketika melihat anak berbuat salah yang berulang, orang tua juga harus mengendalikan emosinya dan berusaha tetap memberitahukan anaknya dengan baik dan memberikan pemahaman yang jelas.
Anak juga akan lebih stabil secara emosi karena tahu jika melampiaskan emosi dengan berlebihan tidak akan mendapatkan apa yang dia mau sehingga permasalahannya tidak selesai.
6. Kemampuan sosial anak berkembang pesat
Perkembangan sosial seperti mampu berkomunikasi dengan teman main, tidak malu berada di keramaian, bisa tetap tenang di hadapan orang yang tidak dikenal adalah bentuk kemampuan sosial yang baik.
Dibalik manfaat atau kelebihan menerapkan pola asuh gentle parenting, ternyata juga memiliki kekurangan.
Kekurangan Pola Asuh Gentle Parenting
Tiap pola asuh mempunyai sejumlah risiko bagi orang tua dan anak. diantaranya sebagai berikut :
- Dapat menimbulkan stres pada orang tua
Penerapan gentle parenting bisa menimbulkan kelelahan secara emosional yang berujung stres pada orang tua. Pasalnya, pada pola asuh ini, orang tua dituntut untuk selalu sabar, tenang, empatik, dan mampu mengendalikan emosinya dalam berbagai kondisi. Termasuk ketika kondisi yang menantang sekalipun.
Pada awalnya mungkin kamu sebagai orang tua bisa menghadapinya. Namun jika hal itu terjadi terus menerus akan berdampak buruk pada mental orang tua. Karena orang tua juga memiliki batas kesabaran dan emosi. Sehingga jika tuntutan ini tidak diimbangi dengan pengelolaan emosi yang sehat maka rasa stres yang per berkepanjangan akan mungkin terjadi.
2. Berpeluang meningkatkan perilaku menentang pada anak
Gentle parenting juga bisa memicu peningkatan perilaku menentang pada anak terutama saat orang tua menerapkan batasan yang tidak jelas. Hal Ini dikarenakan pola asuh ini mendorong anak untuk merespons perilaku anak melalui dialog serta upaya memahami perasaan mereka saat muncul perilaku menentang.
Nah jika perilaku yang sama kemudian orang tua meresponnya dengan diskusi yang panjang dan perhatian intens dan penegasan batasan, anak pun akan belajar bahwa perilaku menentang merupakan cara yang paling efektif untuk menarik perhatian orang tua.
Akibatnya perilaku buruk anak pun akan semakin sering muncul dan menjadi kebiasaan anak di masa depan.
3. Berpotensi menimbulkan konflik keluarga
Gentle parenting merupakan gaya pengasuhan yang relatif baru dan kerap bertentangan dengan pola asuh lama, khususnya pola asuh otoriter. Karena itu, ketika pendekatan ini diterapkan dalam keluarga yang terbiasa menggunakan pola asuh otoriter, kemungkinan akan muncul konflik dengan anggota keluarga lainnya.
Sebab, orang tua yang menerapkan gentle parenting dinilai terlalu lembek atau memanjakan anak. Selain itu, jika konflik keluarga terus berlanjut, efektivitas pengasuhan akan berkurang.
Karena itu orang tua yang menggunakan pola asuh ini akan berisiko merasa tertekan dan ragu terhadap pilihan pengasuhannya. Bahkan orang tua akan kesulitan dalam bersikap konsisten karena adanya intervensi.
4. Anak kurang tangguh dalam menghadapi dunia nyata
Gentle parenting juga memiliki kekurangan lain yaitu anak akan berpotensi menjadi kurang tangguh dalam menghadapi kehidupan yang nyata. HaL ini dikarenakan gente parenting menekankan perlindungan terhadap emosi anak, validasi perasaaan dan upaya untuk meminimalkan ketidaknyamanan anak di berbagai situasi.
Padahal di dunia nyata tidak selalu berjalan dengan cara yang lembut dan penuh persahabatan. Oleh karena itu pola asuh ini jika tanpa diimbangi dengan pembiasaan menghadapi tantangan, anak akan kesulitan dalam beradaptasi, mudah tersinggung ketika dikritik. Selain itu anak juga menjadi kurang tahan terhadap tekanan dan lebih cepat menyerah saat menghadapi suatu kegagalan.
Gentle parenting memang ideal karena fokusnya pada empati, komunikasi serta membangun hubungan yang hangat dengan anak. Namun di sisi lain parenting ini membutuhkan kesabaran ekstra dan energi mental dari orang tua yang tidak sedikit. Jika orangtua tidak hati-hati maka batasannya akan kabur dan membuat anak menjadi bingung. (sta)
Comment