Parenting
Home » Blog » Lidah Dikerik Pakai Cincin Biar Anak Cepat Bicara? Ini Fakta Medisnya

Lidah Dikerik Pakai Cincin Biar Anak Cepat Bicara? Ini Fakta Medisnya

Lidah Dikerik Pakai Cincin Biar Anak Cepat Bicara? Ini Fakta Medisnya
Lidah Dikerik Pakai Cincin Biar Anak Cepat Bicara? Ini Fakta Medisnya 25/04/2026 Foto: Pinterest

Hai, Bunda! Belakangan ini, narasi bahwa “lidah dikerik pakai cincin agar anak cepat bicara” masih muncul di kalangan orang tua, terutama di grup‑grup komunitas dan media sosial. Banyak yang menganggap cara ini sebagai solusi tradisional ampuh untuk mengatasi anak yang belum lancar berbicara. Namun, berdasarkan penjelasan dari berbagai sumber kesehatan dan lembaga klarifikasi hoaks, kerok lidah pakai cincin tidak terbukti secara medis dan justru berpotensi membahayakan anak.

Praktik ini sering dilakukan dengan keyakinan bahwa lidah anak yang “kaku” atau “terikat” bisa dilonggarkan sehingga kata‑kata lebih mudah keluar. Padahal, speech delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi kompleks yang berkaitan dengan tumbuh kembang saraf, pendengaran, dan komunikasi, bukan hanya soal bentuk lidah.

Fakta Tentang Speech Delay

Speech delay terjadi ketika anak mengalami keterlambatan dalam kemampuan berbicara dan berbahasa dibanding usia sebayanya. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor genetik, gangguan pendengaran, hingga keterlambatan perkembangan sistem saraf. Beberapa anak juga mengalami speech delay akibat masalah struktur mulut atau lingkungannya yang kurang distimulasi bicara.

Kondisi ini bukan sesuatu yang bisa diatasi dengan metode sederhana seperti menggores lidah atau ritual tradisional. Para ahli menekankan pentingnya evaluasi medis yang tepat untuk menemukan akar penyebab, seperti pemeriksaan pendengaran, tumbuh kembang, dan fungsi saraf. Tanpa diagnosis yang jelas, intervensi apa pun berisiko sia‑sia bahkan salah arah.

Mitos Kerok Lidah Pakai Cincin

Praktik kerok lidah anak menggunakan cincin, terutama emas atau perak, merupakan tradisi turun‑temurun di sebagian budaya. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa cincin bisa “melonggarkan lidah” sehingga anak lebih lancar berbicara. Beberapa versi cerita juga menjanjikan bahwa cara ini dapat mencegah atau mengatasi speech delay tanpa perlu terapi formal.

Bayi Tidak Menangis Saat Lahir, Apa Penyebab Dan Haruskah Panik?

Berbagai sumber medis dan lembaga pelacak hoaks menyebut keyakinan ini sebagai mitos yang tidak berdasar. Tidak ada penelitian ilmiah yang menunjukkan hubungan antara menggores lidah dengan jumlah atau kualitas kata yang bisa diucapkan anak. Justru, sejumlah praktisi kesehatan mencatat bahwa metode ini bisa menyebabkan luka, iritasi, bahkan infeksi di area lidah yang sensitif.

Bahaya Menggores Lidah Anak

Lidah anak sangat sensitif dan mudah terluka jika terkena benda tajam atau keras seperti cincin logam. Kerok lidah pakai cincin dapat mengakibatkan luka kecil, perdarahan, dan rasa nyeri yang membuat anak takut makan atau minum. Bila alat tidak higienis, risiko infeksi bakteri juga meningkat.

Selain dampak fisik, kasus seperti ini juga menimbulkan kerugian psikologis. Anak yang merasa sakit atau ketakutan saat dipaksa “dikerok” bisa mengalami trauma ringan atau enggan bekerja sama dengan orang tua. Orang tua yang mengandalkan cara ini juga bisa menunda waktu konsultasi ke tenaga kesehatan, sehingga intervensi dini untuk speech delay terlambat dilakukan.

Cara Tepat Menangani Keterlambatan Bicara

Ketimbang mengandalkan mitos kerok lidah, para ahli merekomendasikan pendekatan yang lebih aman dan terbukti. Salah satu cara utama menangani speech delay adalah terapi wicara oleh tenaga profesional. Terapis biasanya menggunakan latihan bicara, permainan, dan teknik stimulasi yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

Orang tua juga bisa berperan aktif di rumah dengan cara sederhana. Berbicara dengan anak secara jelas, sering, dan penuh perhatian; membacakan buku; mengajak bernyanyi; serta mengajukan pertanyaan sederhana dapat membantu mengembangkan kosakata dan kepercayaan diri bicara. Konsistensi dalam stimulasi sehari‑hari sangat penting agar proses terapi lebih efektif.

Mengenal Pola Asuh Lazy Parenting yang Melatih Kemandirian

Kapan Harus Mengonsultasikan ke Dokter?

Orang tua sebaiknya segera berkonsultasi bila anak tidak menunjukkan perkembangan bicara sesuai umurnya atau menarik diri saat berinteraksi. Contoh sederhana yang patut dicurigai adalah anak di atas usia tertentu belum bisa mengucapkan kata‑kata sederhana, tidak merespons panggilan, atau tidak tertarik bercakap‑cakap dengan orang lain.

Jika anak tampak mengalami speech delay, orang tua sebaiknya menghindari metode yang tidak terbukti secara medis dan tidak mengandalkan cerita turun‑temurun tanpa dasar ilmiah. Justru, menghubungi dokter anak, psikolog, atau terapis wicara jauh lebih penting untuk mendapatkan rencana penanganan yang tepat dan aman bagi anak. (has)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *