Hai, Bunda! Istilah parenting VOC belakangan ramai dibahas di media sosial dan forum keluarga. Banyak orang tua mengaitkannya dengan pola asuh tegas yang menuntut anak patuh tanpa banyak bertanya. Di satu sisi, gaya ini sering dianggap mampu membentuk disiplin. Namun di sisi lain, banyak ahli menilai pendekatan tersebut berisiko menekan perkembangan emosi anak.
Secara umum, parenting VOC merujuk pada pola asuh otoriter yang menempatkan orang tua sebagai pusat kontrol penuh. Anak dituntut mengikuti aturan yang kaku, menerima keputusan sepihak, dan jarang mendapat ruang diskusi. Karena menekankan kepatuhan mutlak, pola ini sering membuat anak patuh karena takut, bukan karena memahami alasan di balik aturan.
Di era modern, banyak orang tua mulai mempertanyakan apakah pola ini masih efektif. Disiplin memang penting, tetapi kebutuhan emosional anak kini juga mendapat perhatian besar.
Ciri Parenting VOC Yang Paling Sering Muncul
Ciri utama parenting VOC adalah aturan yang kaku dan sulit dinegosiasikan. Orang tua biasanya menetapkan standar yang tinggi, lalu meminta anak mematuhinya tanpa kompromi. Anak juga jarang diberi kesempatan untuk menjelaskan alasan, pendapat, atau perasaannya.
Selain itu, komunikasi dalam pola ini cenderung satu arah. Orang tua lebih banyak memberi instruksi, sementara anak hanya mendengar dan menjalankan. Ketika anak melakukan kesalahan, respons yang muncul sering berupa bentakan, ancaman, sindiran, atau hukuman verbal.
Ciri lain yang sering muncul adalah fokus berlebihan pada hasil. Nilai sekolah, prestasi, dan perilaku tertib sering dijadikan tolok ukur utama, sementara proses belajar dan kondisi psikologis anak kurang diperhatikan. (Hello Sehat)
Dampak Parenting VOC Pada Mental Anak
Dalam jangka pendek, parenting VOC memang dapat membentuk anak yang disiplin dan terbiasa mengikuti aturan. Anak juga bisa terlihat lebih mandiri, tahan banting, dan hormat pada figur otoritas. Namun manfaat ini sering hanya terlihat di permukaan.
Dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih kompleks. Anak berisiko tumbuh dengan rasa takut, cemas, dan kurang percaya diri. Karena terbiasa tidak diberi ruang bicara, mereka juga sering kesulitan mengekspresikan emosi.
Tekanan yang terus berlangsung dapat memicu stres, perilaku memberontak, atau justru membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial. Hubungan antara orang tua dan anak pun berpotensi menjadi dingin karena anak merasa tidak aman untuk terbuka.
Efek lain yang sering tidak disadari adalah anak bisa membawa pola asuh ini hingga dewasa. Saat menjadi orang tua nanti, mereka mungkin mengulang pola yang sama karena menganggap itu cara mendidik yang normal.
Parenting VOC Masih Relevan Untuk Anak Zaman Sekarang?
Pertanyaan terbesar saat ini adalah apakah parenting VOC masih relevan untuk anak zaman sekarang. Jawabannya tidak bisa hitam-putih. Sebagian unsur seperti ketegasan, aturan jelas, dan konsistensi disiplin tetap penting dalam pengasuhan modern.
Namun, pendekatan yang terlalu keras tanpa empati sudah dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak masa kini. Anak sekarang hidup di lingkungan sosial yang menuntut kemampuan komunikasi, regulasi emosi, berpikir kritis, dan kepercayaan diri. Semua kemampuan ini sulit tumbuh optimal jika anak selalu berada dalam tekanan.
Karena itu, banyak psikolog dan praktisi parenting menyarankan orang tua mengambil sisi positifnya saja, seperti disiplin dan tanggung jawab, lalu menggabungkannya dengan komunikasi dua arah dan validasi emosi.
Cara Menerapkan Disiplin Tanpa Gaya VOC
Orang tua tetap bisa membangun anak yang disiplin tanpa harus memakai gaya parenting VOC secara penuh. Kuncinya adalah membuat aturan yang jelas, memberi alasan yang mudah dipahami, dan tetap membuka ruang diskusi.
Saat anak melakukan kesalahan, fokuslah pada konsekuensi logis daripada hukuman yang membuatnya takut. Misalnya, jika anak lupa membereskan mainan, ajak ia bertanggung jawab membereskannya bersama.
Validasi emosi juga sangat penting. Anak perlu tahu bahwa merasa marah, sedih, atau kecewa adalah hal yang wajar. Yang perlu diarahkan adalah cara mengekspresikannya dengan sehat.
Dengan pendekatan ini, anak tetap belajar disiplin sekaligus merasa aman secara emosional.
Pada akhirnya, parenting VOC mungkin masih memiliki nilai dalam hal ketegasan. Namun jika diterapkan terlalu keras, dampaknya bisa lebih besar daripada manfaatnya. Pengasuhan yang ideal saat ini bukan sekadar membuat anak patuh, tetapi juga membantu mereka tumbuh percaya diri, mampu berpikir, dan sehat secara mental. (has)
Comment